| Phytagoras |
berfikirlah... maka akan kita temui keindahan hidup 'n kebenaran hakiki
Kamis, 10 Mei 2012
PHYTAGORAS
Geometri Bangun Datar
Sabtu, 17 September 2011
Sejarah Geometri (Tugas Kuliah)
Geometri (Greek; geo= bumi, metria= ukuran) adalah sebagian dari matematika yang mengambil persoalan mengenai ukuran, bentuk, dan kedudukan serta sifat ruang. Geometri adalah salah satu dari ilmu yang tertua. Awal mulanya sebuah badan pengetahuan praktikal yang mengambil berat dengan jarak, luas dan volume, tetapi pada abad ke-3 geometri mengalami kemajuan yaitu tentang bentuk aksiometik oleh Euclid, yang hasilnya berpengaruh untuk beberapa abad berikutnya.
Geometri merupakan salah satu cabang dalam ilmu matematika. Ilmu Geometri secara harfiah berarti pengukuran tentang bumi, yakni ilmu yang mempelajari hubungan di dalam ruang. Sejatinya, ilmu geometri sudah dipelajari peradaban Mesir Kuno, masyarakat Lembah Sungai Indus dan Babilonia.
Jumat, 26 Agustus 2011
Bagaimana Seorang Muslim Berfikir

Pernahkah anda memikirkan bahwa anda tidak ada sebelum dilahirkan ke dunia ini; dan anda telah diciptakan dari sebuah ketiadaan? Pernahkan anda berpikir bagaimana bunga yang setiap hari anda lihat di ruang tamu, yang tumbuh dari tanah yang hitam, ternyata memiliki bau yang harum serta berwarna-warni?
Pernahkan anda memikirkan seekor nyamuk, yang sangat mengganggu ketika terbang mengitari anda, mengepakkan sayapnya dengan kecepatan yang sedemikian tinggi sehingga kita tidak mampu melihatnya?
Pernahkan anda berpikir bahwa lapisan luar dari buah-buahan seperti pisang, semangka, melon dan jeruk berfungsi sebagai pembungkus yang sangat berkualitas, yang membungkus daging buahnya sedemikian rupa sehingga rasa dan keharumannya tetap terjaga?
Kamis, 25 Agustus 2011
Rahasia Kecil Kebahagiaan
Rahasia kebahagiaan adalah memusatkan perhatian pada kebaikan dalam diri orang lain. Sebab, hidup bagaikan lukisan: Untuk melihat keindahan lukisan yang terbaik sekalipun, lihatlah di bawah sinar yang terang, bukan di tempat yang tertutup dan gelap sama halnya sebuah gudang.
Rahasia kebahagiaan adalah tidak menghindari kesulitan. Dengan memanjat bukit, bukan meluncurinya, kaki seseorang tumbuh menjadi kuat.
Rahasia kebahagiaan adalah melakukan segala sesuatu bagi orang lain. Air yang tak mengalir tidak berkembang. Namun, air yang mengalir dengan bebas selalu segar dan jernih.
Rahasia kebahagiaan adalah belajar dari orang lain, dan bukan mencoba mengajari mereka. Semakin Anda menunjukkan seberapa banyak Anda tahu, semakin orang lain akan mencoba menemukan kekurangan dalam pengetahuan Anda. Mengapa bebek disebut “bodoh”? Karena terlalu banyak bercuap-cuap.
Rabu, 24 Agustus 2011
Pengaruh Penguasaan Materi Bilangan Pada Pelajaran Matematika Terhadap Kemampuan Pemecahan Masalah Aritmatika Sosial Siswa Kelas VII di MTs Yapin Ker
Matematika merupakan salah satu mata pelajaran yang yang termuat dalam kurikulum sekolah, baik tingkat dasar maupun menengah. Materi dalam matematika telah tersusun sistematis dan memiliki keterkaitan antara satu materi dengan materi yang lainnya. Dalam kurikulum sekarang, materi bilangan ditempatkan pada urutan yang pertama pada tingkat SLTP atau MTs. Penguasaan siswa terhadap materi bilangan diharapkan menjadi modal untuk mempelajari materi-materi berikutnya, diantaranya aritmatika sosial. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penguasaan materi bilangan siswa kelas VII MTs Yapin Kertasemaya, dan kemampuan pemecahan masalah siswa pada pokok bahasan aritmatika sosial, serta ingin mengetahui seberapa besar pengaruh penguasaan materi bilangan terhadap kemampuan pemecahan masalah siswa pada materi aritmatika sosial. Kemampuan pemecahan masalah yang dimaksud adalah kemampuan menyelesaikan soal bentuk cerita yang berkaitan dengan materi aritmatika sosial. Dalam menyelesaikannya, diperlukan penguasaan dalam operasi bilangan. Karenanya penguasaan siswa dalam operasi bilangan akan mempengaruhi kemampuan pemecahan masalah pada aritmatika sosial. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuantitatif. Adapun populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VII MTs Yapin Kertasemaya tahun ajaran 2010-2011 yang berjumlah 136 siswa. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik cluster random sampling dan diperoleh kelas VII A yang berjumlah 34 siswa sebagai sampel. Variabel dalam penelitian ini yakni penguasaan materi bilangan dan kemampuan pemecahan masalah aritmatika sosial. Uji yang digunakan adalah uji normalitas, uji kelinieran regresi, dan uji regresi. Pengolahan data penelitian dilakukan dengan program SPSS 17.0. Hasil analisis menunjukkan bahwa penguasaan materi bilangan siswa kelas VII dikategorikan cukup dengan nilai rata-rata 50,63. Sedangkan kemampuan pemecahan masalah aritmatika sosial siswa mendapat nilai rata-rata 45,50 sehingga dikategorikan cukup. Persamaan regresi yang terbentuk adalah sebagai berikut Ỳ= 11,45 + 0,66 X. Terdapat pengaruh yang signifikan antara penguasaan materi bilangan terhadap kemampuan pemecahan masalah aritmatika sosial pada siswa kelas VII MTs YAPIN Kertasemaya. Hal ini dapat dilihat dari hasil uji t yang diperoleh t hitung > t tabel . Adapun besarnya pengaruh penguasaan materi bilangan terhadap kemampuan pemecahan soal aritmatika sosial siswa adalah 47,2 %, dan sisanya dipengaruhi faktor-faktor yang lain.
Selasa, 23 Agustus 2011
Anak Tuhan atau Anak Roh Kudus!
Umat Kristen dalam semangat yang besar untuk memproduksi sebuah silsilah bagi Tuhannya, telah menemukan dua silsilah, sebuah oleh Matius dan yang lainnya oleh Lukas. Di antara dua daftar leluhur Yesus ini mereka memberinya enam puluh enam ayah dan kakek. Dari kedua daftar ini tidak ada nama yang identik, kecuali Yusuf (tukang kayu) yang tidak ada jalan lain disebut sebagai ayah Yesus Kristus, seperti yang dikatakan Matius kepada kita:
Rabu, 20 Mei 2009
Menggugat Pemerintah dalam hal Pendidikan
Namun disisi lain kita sangat prihatin dengan kenyataan yang ada di dunia pendidikan Indonesia, dimana ada pergeseran pada tingkatan sikap politik, konsep berpikir/paradigma pemerintah berkaitan dengan kurikulum pendidikan yang diarahkan untuk menjawab kebutuhan pasar. Realitas ini semakin merisaukan ketika dipamerkan fakta-fakta obyektif di lapangan (realitas dunia pendidikan nasional) sebagai dampak ikutan dari kebijakan ini.
Belum terealisasinya anggaran pendidikan sesuai dengan amanat konstitusi, menjadi salah satu penyebab lambatnya upaya mencerdaskan bangsa secara merata yang dilakukan oleh pemerintah, dimana masih banyak sesama kita yang belum berkesempatan untuk mengenyam pendidikan, namun ada kesenjangan kesempatan untuk mengenyam pendidikan, kalaupun sudah berkesempatan untuk menikmati bangku pendidikan, namun ada kesenjangan tingkat kelayakannya antara satu sekolah dengan sekolah yang lain, bahkan antara satu daerah dengan daerah yang lain. Kalau mau jujur, ada kontradiksi antara kebijakan wajib belajar 9 tahun yang dicanangkan pemerintah dan sikap politik pemerintah dalam menyediakan anggaran pendidikan (20% dana APBN) dan kebijakan komersialisasi pendidikan melalui BHMN dan BHP yang berdampak pada pendidikan hanya dapat dinikmati oleh keluarga yang mampu secara ekonomi.
Transparansi pengelolaan anggaran pendidikan juga penting untuk dibedah guna mengetahui seberapa jauh kepedulian pemerintah kita untuk mencerdaskan kehidupan bangsa melalui pendidikan. Pertanyaan kritisnya adalah, berapa persenkah dari 20% alokasi anggaran pendidikan yang langsung dimanfaatkan untuk operasionalisasi pendidikan? Dan berapa persen dari anggaran tersebut yang dikelola DIKNAS dan swasta dengan alasan peningkatan kualitas infrastruktur yang sangat berpeluang korup?
Wajah lain dari dunia pendidikan kita adalah hadirnya lembaga-lembaga pendidikan (yang didukung pemerintah) yang tidak mempertimbangkan potensi sumber daya lokal, hal ini berdampak pada tidak meratanya kesejahteraan ekonomi.
Dunia pendidikan bermutu yang merata bagi seluruh rakyat Indonesia tanpa membedakan status murid dan letak geografis harus ditopang oleh terjaminnya kesejahteraan dosen dan guru, hal ini penting karena ini berbanding lurus dengan konsentrasi guru yang menjadi elemen penting dalam upaya mencapai tujuan mulia pendidikan.
Ketika kecerdasan bangsa menjadi mimpi yang hendak digapai untuk mendongkrak martabat bangsa di mata dunia, maka pendidikan merupakan satu-satunya pintu masuk untk menggapai mimpi itu. Sejauh pengamatan kami sebagai kelompok muda kritis bangsa ini, realitas permasalahan diatas adalah potret pendidikan kita, untuk itu kami yang tergabung dalam kelompok mahasiswa "Menggugat tanggung jawab negara dalam penyelenggaraan pendidikan" di bangsa tercinta ini, menuntut:
1. Tolak komersialisasi pendidikan
2. Realisasi anggaran pendidikan 20%
3. Pemerataan pendidikan bermutu
4. Pendidikan berbasis sumber daya lokal
5. Transparansi anggaran pendidikan
6. Stop Politisasi pendidikan
7. Tolak kekerasan di dunia pendidikan
8. Tingkatkan kesejahteraan guru dan dosen
Menggugat Pendidikan
Pendidikan yang selama ini orang tahu selalu saja dianggap baik, tapi pada kenyataannya pendidikan merupakan sebagai alat pembodohan. Banyak orang akan berbondong-bondong ingin agar anak atau saudaranya bisa disekolahkan setinggi-tingginya, tanpa mau mengetahui bahwa orang yang mau disekolahkannya itu hanya untuk mencari uang ketika lulus nanti, karena pendidikan dianggapnya merupakan sebagai alat pemerkaya diri. Padahal sebetulnya kalau anaknya ingin kaya kenapa tidak dari kecil diberikan modal untuk usaha agar mendapatkaan uangnya lebih banyak, atau lebih pintar mencari uang, ironis memang kalau penididikan yang sekarang sedang berlangsung berparadigma demikian.
Pendidikan yang tidak tahu orientasinya mau kemana jelas ini yang menjadi sorotan pendidikan pada umumnya di
Seandainya sekolah gratis, seandainya orang sekolah boleh gondrong, seandainya guru digaji lebih dari
Senin, 18 Mei 2009
kapan waktu belajar?
Postingan Populer
|
|